Pontianak, 24 April 2021
OPINI - KILAS.ID
Oleh : BUHORI, M.Pd (Dosen IAIN Pontianak)
Dikisahkan, suatu ketika terdapat seorang laki-laki yang sedang mengkaji sendiri kitab hadis Shahih Buhkhari, suatu kitab yang dianggap paling valid dan sohih setelah Kitab Suci Al-Qur'an.
Singkat kisah, sampailah ia pada pembahasan hadits :
Akibat kurang teliti dalam membaca hadis, ia malah membaca "Al-Hayyatu As-Saudaa'u Syifaaun Likulli daa' " (huruf ba' dikira ya'), yang berarti : ular hitam merupakan obat dari segala jenis penyakit.
Kesalahan dalam membaca teks ini menyebabkan ia gagal paham dan menimbulkan pemahaman yang salah.
Berbekal "gagal paham" akut ini, ia pun bergegas pergi mencari ular hitam. Setelah mendapatinya, dengan semangat ia segera membunuh dan memakannya.
Apa dinyana, ia malah mati akibat keracunan bisa ular yang ia makan.
Mengambil ibrah dari kisah di atas, ternyata, belajar, mengaji dan mengkaji disiplin keilmuan tertentu tanpa bimbingan seorang guru dapat menyebebakan ia tergelincir pada jurang kesalahan yang membahayakan dirinya, bahkan menimbulkan mudharat pada pihak lain. Terlebih dalam persialan agama.
Seandainya, orang yang melakoni kisah di atas, mau bertanya dan minta bimbingan pada orang yang paham tentang hadis dan mau berguru kepadanya, kemungkinan besar ia akan terhindar dari kecerobohan yang berdampak pada "kematian yang sia-sia".
Bagi seorang pembaca (reader) dalam memahami pesan yg terdapat dalam sebuah teks, memerlukan pemahaman yang utuh dengan melihat konteks yang melingkupinya. Salah satu cara yang mudah dilakukan, agar terhindar dari "bencana gagal paham" adalah dengan bimbingan dari pihak-pihak yang "memproduksi" teks tersebut (author), atau yang paham betul terhadap kronologis di balik sebuah teks.
Oleh sebab itu, sangatlah tepat perkataan yang begitu familiar di kalangan pesantren:
Singkat kisah, sampailah ia pada pembahasan hadits :
الحبة السوداء شفاء من كل داء
Habbatus Sauda' adalah obat dari segala jenis penyakit.
Akibat kurang teliti dalam membaca hadis, ia malah membaca "Al-Hayyatu As-Saudaa'u Syifaaun Likulli daa' " (huruf ba' dikira ya'), yang berarti : ular hitam merupakan obat dari segala jenis penyakit.
Kesalahan dalam membaca teks ini menyebabkan ia gagal paham dan menimbulkan pemahaman yang salah.
Berbekal "gagal paham" akut ini, ia pun bergegas pergi mencari ular hitam. Setelah mendapatinya, dengan semangat ia segera membunuh dan memakannya.
Apa dinyana, ia malah mati akibat keracunan bisa ular yang ia makan.
Mengambil ibrah dari kisah di atas, ternyata, belajar, mengaji dan mengkaji disiplin keilmuan tertentu tanpa bimbingan seorang guru dapat menyebebakan ia tergelincir pada jurang kesalahan yang membahayakan dirinya, bahkan menimbulkan mudharat pada pihak lain. Terlebih dalam persialan agama.
Seandainya, orang yang melakoni kisah di atas, mau bertanya dan minta bimbingan pada orang yang paham tentang hadis dan mau berguru kepadanya, kemungkinan besar ia akan terhindar dari kecerobohan yang berdampak pada "kematian yang sia-sia".
Bagi seorang pembaca (reader) dalam memahami pesan yg terdapat dalam sebuah teks, memerlukan pemahaman yang utuh dengan melihat konteks yang melingkupinya. Salah satu cara yang mudah dilakukan, agar terhindar dari "bencana gagal paham" adalah dengan bimbingan dari pihak-pihak yang "memproduksi" teks tersebut (author), atau yang paham betul terhadap kronologis di balik sebuah teks.
Oleh sebab itu, sangatlah tepat perkataan yang begitu familiar di kalangan pesantren:
من تعلم بلا شيخ فشيخه شيطان
Orang yang belajar tanpa guru, maka yang akan menjadi gurunya adalah syetan.Maka dari itu sangatlah penting bagi seseorang untuk berguru terutamanya kepada guru yang sanad keilmuannya sampai kepada Rasulullah SAW.

Terimakasih pencerahannya
ReplyDeletePost a Comment
Tuliskan komentar anda dengan bahasa yang santun, sopan dan bijak