Pontianak – Nama Aloevera Centre Kota Pontianak hanya tinggal cerita, padahal untuk menjadikan pusat riset aloevera itu sudah melalui proses perjuangan yang panjang, selayaknya pusat riset komoditas ertanian khas Kota Pontianak itu dikembalikan lagi fungsinya seperti sediakala.
“Dulu Aloevera Centre menjadi tempat riset dan pengembangan tanaman lidah buaya, tapi sekarang namanya saja sudah berubah dan perhatian terhadap lidah biaya terasa sudah semakin berkurang,” kata Ketua DPC Gerbang Tani Kota Pontianak, Muchlis kepada wartawan kemarin di Pontianak.
Bahkan informasi yang diperolehnya, lahan pertanian yang difungsikan untuk tanaman lidah buaya di Kota Pontianak juga semakin berkurang jauh dibanding ketika tanaman lidah buaya menjadi salah satu
tanaman andalan masyarakat.
“Mestinya perhatian pemerintah kota terhadap pertanian lidah buaya ini kembali ditingkatkan karena tanaman itu sudah menjadi ikon Kota Pontianak yang sampai sekarang memberikan penghasilan yang cukup besar untuk masyarakat dari hulu sampai ke hilirnya,” kata dia.
Secara branding menurutnya tanaman lidah buaya sudah punya nama yang sangat populer, dan di
Indonesia, Pontianak menjadi salah satu pelopor utama pengembangan tanaman itu dalam skala besar.
“Apalagi jika kita melihat banyak produk olahan yang sudah dihasilkan dari tanaman lidah buaya, menjadi andalan bagi banyak Usaha Kecil Menengah dan produk olahan itu sudah menjadi salah satu oleh-oleh khas Kota Pontianak,” ujarnya.
Menurut dia banyak cara yang bisa dilakukan Pemerintah Kota Pontianak untuk mendongkrak kembali produktivitas tanaman lidah buaya ini seperti melalui pembukaan lahan baru, memberikan bantuan kepada
petani yang masih setia menanam lidah buaya, membuat kompetisi makanan olahan dari lidah buaya atau mencarikan akses pasar baru bagi petani atau UKM yang mengolah lidah buaya.
“Bisa saja misalnya menjadikan minuman lidah buaya menjadi sajian khas dalam acara pemerintah atau mewajibkan hotel menyediakan menu lidah buaya, bahkan bisa menjadi minuman wajib bagi jamaah
haji dan umroh, artinya banyak cara yang bisa dilakukan untuk membuat lidah buaya kembali produktif,” ujarnya.
“Dulu Aloevera Centre menjadi tempat riset dan pengembangan tanaman lidah buaya, tapi sekarang namanya saja sudah berubah dan perhatian terhadap lidah biaya terasa sudah semakin berkurang,” kata Ketua DPC Gerbang Tani Kota Pontianak, Muchlis kepada wartawan kemarin di Pontianak.
Bahkan informasi yang diperolehnya, lahan pertanian yang difungsikan untuk tanaman lidah buaya di Kota Pontianak juga semakin berkurang jauh dibanding ketika tanaman lidah buaya menjadi salah satu
tanaman andalan masyarakat.
“Mestinya perhatian pemerintah kota terhadap pertanian lidah buaya ini kembali ditingkatkan karena tanaman itu sudah menjadi ikon Kota Pontianak yang sampai sekarang memberikan penghasilan yang cukup besar untuk masyarakat dari hulu sampai ke hilirnya,” kata dia.
Secara branding menurutnya tanaman lidah buaya sudah punya nama yang sangat populer, dan di
Indonesia, Pontianak menjadi salah satu pelopor utama pengembangan tanaman itu dalam skala besar.
“Apalagi jika kita melihat banyak produk olahan yang sudah dihasilkan dari tanaman lidah buaya, menjadi andalan bagi banyak Usaha Kecil Menengah dan produk olahan itu sudah menjadi salah satu oleh-oleh khas Kota Pontianak,” ujarnya.
Menurut dia banyak cara yang bisa dilakukan Pemerintah Kota Pontianak untuk mendongkrak kembali produktivitas tanaman lidah buaya ini seperti melalui pembukaan lahan baru, memberikan bantuan kepada
petani yang masih setia menanam lidah buaya, membuat kompetisi makanan olahan dari lidah buaya atau mencarikan akses pasar baru bagi petani atau UKM yang mengolah lidah buaya.
“Bisa saja misalnya menjadikan minuman lidah buaya menjadi sajian khas dalam acara pemerintah atau mewajibkan hotel menyediakan menu lidah buaya, bahkan bisa menjadi minuman wajib bagi jamaah
haji dan umroh, artinya banyak cara yang bisa dilakukan untuk membuat lidah buaya kembali produktif,” ujarnya.
Untuk membuat lidah buaya kembali menjadi tanaman unggulan yang benar-benar mendapatkan perhatian dari pemerintah kota, dia berharap aloevera centre bisa kembali difungsikan dan benar-benar menjadi
pusat riset dan pengembangan lidah buaya di Kalbar.
“Jangan sampai tanaman lidah buaya hilang dari Kota Pontianak karena tidak punya pasar dan tidak mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah kota. Pemerintah harus jadi yang terdepan untuk mendorong tanaman itu kembali menjadi komoditas unggulan di Kota Pontianak,” ujarnya. (*)
pusat riset dan pengembangan lidah buaya di Kalbar.
“Jangan sampai tanaman lidah buaya hilang dari Kota Pontianak karena tidak punya pasar dan tidak mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah kota. Pemerintah harus jadi yang terdepan untuk mendorong tanaman itu kembali menjadi komoditas unggulan di Kota Pontianak,” ujarnya. (*)

Mantap... semoga berkah
ReplyDeleteAmiin
ReplyDeletePost a Comment
Tuliskan komentar anda dengan bahasa yang santun, sopan dan bijak