![]() |
| Kelola Bantuan Alsintan Dengan Bijak |
KILAS.ID PONTIANAK – Belum semua petani bisa menikmati bantuan alat dan mesin pertanian (Alsintan) dalam kegiatan usaha taninya. Bagi yang sudah mendapatkannya, diharapkan bisa digunakan dengan bijak
hingga menjadi modal untuk memperoleh alat dan mesin lainnya secara mandiri.
“Pada dasarnya alat dan mesin bantuan itu adalah stimulus untuk meningkatkan produksi dan produktivitas lahan pertanian masyarakat,” ujar Heri Mustari, Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Gerakan Kebangkitan Petani dan Nelayan Indonesia (Gerbang Tani) Kalbar, Senin (3/9) di Pontianak.
Menurut dia Daniel Johan selaku Wakil Ketua Komisi IV DPR RI yang membidangi salah satunya sektor pertanian, telah berupaya maksimal untuk mendorong berbagai program bantuan pemerintah masuk ke
Kalbar.
“Di satu sisi, pemerintahan Pak Jokowi memberikan fokus yang besar untuk sektor pertanian, dan itu disambut oleh Daniel Johan yang benar-benar menunjukkan selayaknya seperti itulah wakil rakyat berperan untuk menyuarakan kebutuhan konstituennya, masyarakat Kalimantan Barat,” ujarnya.
Menurutnya, Daniel Johan sudah maksimal menjalankan fungsinya sebagai wakil rakyat, dampaknya adalah banyaknya bantuan pertanian yang masuk ke Kalbar karena selalu disuarakannya dalam tiap pertemuan dengan Kementerian Pertanian.
Tak hanya itu, bahkan perjuangan yang dilakukan selama di Senayan bukan hanya Kalbar yang erasakannya, tetapi seluruh Indonesia seperti perjuangan untuk nelayan maupun penyuluh pertanian
kontrak yang sekarang sudah diangkat menjadi PNS.
“Daniel Johan sudah maksimal, dan saya yakin banyak petani dan nelayan yang merasakan jerih payah perjuangan itu,” imbuhnya.
Khusus untuk dunia pertanian, dia sangat berharap bantuan bisa dimaknai sebagai tambahan modal dalam menjalankan kegiatan usaha tani. “Artinya jika harus beli sendiri, berapa modal yang harus kita keluarkan, tapi ketika ada bantuan, kita tinggal memanfaatkannya dengan baik,” imbuhnya.
Bahkan bantuan alat itu bisa menjadi modal untuk mendapatkan alat kedua dan seterusnya secara mandiri. Caranya kata dia kelompok tani bisa menyewakan alat tersebut dengan biaya yang layak, dananya digunakan untuk perawatan mesin, honor operator, dan kas modal untuk membeli alat mesin yang baru. Misalnya, combine harvester atau mesin panen, kalau panen manual petani keluar Rp2 juta per hektar, dengan mesin biaya sewanya bisa ditetapkan Rp1 juta atau lebih, tetapi dibawah biaya jika panen manual dan itu disepakati di kelompok tani pemilik alat.
hingga menjadi modal untuk memperoleh alat dan mesin lainnya secara mandiri.
“Pada dasarnya alat dan mesin bantuan itu adalah stimulus untuk meningkatkan produksi dan produktivitas lahan pertanian masyarakat,” ujar Heri Mustari, Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Gerakan Kebangkitan Petani dan Nelayan Indonesia (Gerbang Tani) Kalbar, Senin (3/9) di Pontianak.
Menurut dia Daniel Johan selaku Wakil Ketua Komisi IV DPR RI yang membidangi salah satunya sektor pertanian, telah berupaya maksimal untuk mendorong berbagai program bantuan pemerintah masuk ke
Kalbar.
“Di satu sisi, pemerintahan Pak Jokowi memberikan fokus yang besar untuk sektor pertanian, dan itu disambut oleh Daniel Johan yang benar-benar menunjukkan selayaknya seperti itulah wakil rakyat berperan untuk menyuarakan kebutuhan konstituennya, masyarakat Kalimantan Barat,” ujarnya.
Menurutnya, Daniel Johan sudah maksimal menjalankan fungsinya sebagai wakil rakyat, dampaknya adalah banyaknya bantuan pertanian yang masuk ke Kalbar karena selalu disuarakannya dalam tiap pertemuan dengan Kementerian Pertanian.
Tak hanya itu, bahkan perjuangan yang dilakukan selama di Senayan bukan hanya Kalbar yang erasakannya, tetapi seluruh Indonesia seperti perjuangan untuk nelayan maupun penyuluh pertanian
kontrak yang sekarang sudah diangkat menjadi PNS.
“Daniel Johan sudah maksimal, dan saya yakin banyak petani dan nelayan yang merasakan jerih payah perjuangan itu,” imbuhnya.
Khusus untuk dunia pertanian, dia sangat berharap bantuan bisa dimaknai sebagai tambahan modal dalam menjalankan kegiatan usaha tani. “Artinya jika harus beli sendiri, berapa modal yang harus kita keluarkan, tapi ketika ada bantuan, kita tinggal memanfaatkannya dengan baik,” imbuhnya.
Bahkan bantuan alat itu bisa menjadi modal untuk mendapatkan alat kedua dan seterusnya secara mandiri. Caranya kata dia kelompok tani bisa menyewakan alat tersebut dengan biaya yang layak, dananya digunakan untuk perawatan mesin, honor operator, dan kas modal untuk membeli alat mesin yang baru. Misalnya, combine harvester atau mesin panen, kalau panen manual petani keluar Rp2 juta per hektar, dengan mesin biaya sewanya bisa ditetapkan Rp1 juta atau lebih, tetapi dibawah biaya jika panen manual dan itu disepakati di kelompok tani pemilik alat.
Saya pikir sah-sah saja ada biaya sewa, karena mesin perlu perawatan, harapan nya juga dua tahun digunakan, kelompok sudah bisa beli alat yang sama atau alat lainnya untuk melengkapi kebutuhan alat dalam kegiatan usaha tani mereka,” imbuhnya.
Dia berharap kedepan, petani yang sudah pernah mendapatkan bantuan bisa lebih mandiri dalam kegiatan usaha taninya karena kebutuhan modal awal seperti bantuan sarana produksi maupun alat dan mesin pertanian sudah didapat dari bantuan pemerintah.
“Tidak selamanya kita dapat bantuan, tentunya masih banyak yang belum mendapatkannya, giliran, agar bantuan kedepan semakin merata dan bisa dinikmati semua petani,” ucapnya.
Apalagi pemerintahan sekaran dibawah kepemimpinan Jokowi sangat menaruh perhatian besar untuk petani sehingga banyak bantuan diturunkan setiap tahunnnya membantu petani dalam menunjang usaha taninya. (*)

Post a Comment
Tuliskan komentar anda dengan bahasa yang santun, sopan dan bijak